Tampilkan postingan dengan label Information & solution. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Information & solution. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2016

Atasi 5 Kendala Berteman Dengan Orang Jepang

Cobalah Atasi 5 Kendala Berteman Dengan Orang Jepang Ini

Merasa Gaul? Cobalah Atasi 5 Kendala Berteman Dengan Orang Jepang Ini
Apakah kamu punya cita-cita untuk pergi ke Jepang dan menetap disana? Sudahkah kamu mempelajari budaya Jepang dan lingkungan masyarakatnya? Karena untuk bergaul dengan orang Jepang sebenarnya susah lho. Beberapa teman saya yang sudah duluan menetap di sana karena studi dan berbagai hal pernah berkata “Susah ngobrol sama orang Jepang! Kayanya harus bisa telepati dulu baru bisa nyambung!!”

Tentunya sebagai Gaijin (orang asing) kamu pun tidak akan begitu saja diterima dalam lingkungan. Topik ini telah menjadi topik yang hangat di kalangan expatriat, yang begitu kebingungan bagaimana cara berteman dengan orang Jepang lebih dari tahap kenalan. Kenapa? Mungkin kompilasi jawaban dari Madame Riri ini dapat menjawab pertanyaan tersebut.

Cap “Gaijin”

Sebagai gaijin, kamu dapat dengan mudah dimaafkan, bagaimana? Bila kamu berada di Jepang tentunya ada beberapa budaya yang kamu tidak ketahui, dan apabila dilanggar biasanya kompensasinya bisa membuatmu sangat malu. Tapi dengan status gaijin, kamu bisa langsung dimaafkan. Bilang saja. “Nihongo wakarimasen” (“aku tidak mengerti bahasa Jepang!”) Bisa membuatmu mendapat porsi lebih di restoran dan terkadang, lepas dari polisi.
Namun walaupun terlihat memudahkan, sebenarnya menjadi Gaijin itu pedang bermata dua. Sekeras apapun kamu mencoba berbaur, kamu akan tetap dicap gaijin oleh orang Jepang. Bahkan sebenarnya gaijin adalah kata yang sedikit merendahkan namun dianggap sebagai panggilan yang sudah lazim.
Lucunya, betapa dekatnya kamu dengan orang Jepang tak akan membuat mereka berhenti memanggilmu gaijin. Bahkan ada kategori sendiri untuk orang Jepang yang berteman dengan Gaijin, yaitu “Gaijin Hunter”; namun ada udang dibalik batu karena kamu biasanya akan dimanfaatkan untuk kursus bahasa Inggris gratis, reputasi diri atau mungkin dijadikan pacar (karena parasmu yang eksotis).

Pujian berlebih

Siapa yang tidak suka dipuji? Orang Jepang pada khususnya akan sering memuji kepandaian berbahasamu, penampilanmu yang eksotis dan keahlianmu yang lain. Namun aneh juga kan kalau mereka memuji, misalnya caramu memakai sumpit atau seberapa baiknya ucapan “arigatou gozaimasu”mu.
Keadaan ini disebutkan di dalam ilmu sosiologi sebagai “microaggressions”. Saat mereka memuji hal-hal kecil tersebut sebenarnya mereka secara tidak langsung bertanya “kapan kamu pulang ke negaramu” atau “kamu suka wanita Jepang?”. Mereka ingin mengkonfirmasi stereotype gaijin dan pada saat yang sama membuatmu menjadi kelinci percobaannya.

Misteri

Ingat kata-kata teman saya mengenai untuk berkomunikasi dengan orang Jepang dibutuhkan telepati? Ini dia contohnya, tidak usah dia, semua orang di dunia pasti akan mengalami kendala saat berbicara dengan orang yang tertutup. Orang Jepang biasa bermain dengan kata, mereka tidak pernah mengatakan apa yang mereka maksudkan secara gamblang. Kalau ada kategori aktif-pasif mungkin orang Jepang itu hyper-pasif.
Bahkan bahasa Jepang memiliki cara untuk menghindari percakapan dengan sempurna. Saat ditanya hal yang tidak ingin mereka jawab biasanya mereka akan mengatakan “sore ha chotto…” (“anu, itu sedikit…..”) yang diakui sebagai penolakan, dan kalian pun tidak perlu menanyakan alasannya karena sepotong kalimat itu sudah menjadi alasan penolakan yang sah!

Perencanaan, Perencanaan dan perencanaan

Wah, yang ini sih susah, karena sebagai orang Indonesia, saya pun tahu kalau kita suka impulsif saat membuat acara. Budaya ngaret pun sepertinya sudah mendarah daging, jadi kalau kita mau nonton bioskop jam 5, kamu harus meminta koncomu berkumpul jam 1 siang.
Orang Jepang sangat ketat dengan yang namanya rencana. Bahkan untuk berkumpul dengan sesama saja bisa yang tadinya niat berkumpul akhir minggu, bisa menjadi akhir tahun karena ribetnya sms dan telepon yang dilakukan saat menyamakan jadwal gengmu.

Butuh waktu

Berteman bukanlah hal yang susah, di Indonesia, beberapa detik setelah berkenalan kamu sudah bisa bertukar pikiran, apalagi kalau orangnya cocok satu sama lain, kamu bisa langsung jadi teman baik bahkan bila sebelumnya kamu dan dia tidak pernah bertemu sebelumnya.

Di Jepang, memulai pembicaraan itu mudah, yang susah itu memupuk ‘hubungan’ yang dimulai dari percakapan tersebut sampai menjadi ‘hubungan’ yang berarti. Hal ini disebabkan prinsip ‘uchi’ dan ‘soto’ yang dimiliki orang Jepang dari dulu.
Sesuai artinya, teman dekat, teman lama dan anggota keluarga dikelompokkan dalam kategori “uchi” (“dalam”) dan orang-orang lain dikelompokkan dalam kategori “soto” (“luar”). Meniti jalan untuk menjadi orang “dalam” akan membutuhkan banyak sekali waktu, serta banyak bantu membantu.

Namun bukan berarti menjalin hubungan dengan orang Jepang itu mustahil. Coba lihat pemilik Channel DigitalPulseGTR yang dikenal dengan Kinetic ini. Dia datang ke Jepang untuk mengajar bahasa Inggris dan lihatlah istrinya, Kanako, cantik ya? Tapi entah perjuangan apa yang dia lakukan untuk mendapatkan anugrah tersebut.

Jadi, susah juga ya untuk berteman dengan orang Jepang. Agak-agak mirip sama PDKT ke cewek tsundere juga sih..

http://jurnalotaku.com/2014/03/12/merasa-gaul-cobalah-atasi-5-kendala-berteman-dengan-orang-jepang-ini/

sulit untuk berteman dengan Orang Jepang ?




Kenapa sulit untuk berteman dengan Orang Jepang ?

Bagi Anda Yang pernah tinggal di Negara Maju seperti Jepang, Amerika, ataupun negara lainnya, mungkin sudah banyak faham dan merasakan langsung Sulitnya berkomunikasi ataupun menjalin persahabatan dengan Orang Pribumi. Saya belum pernah pergi ke Amerika seh, apalagi tinggal disana.
Tapi kebetulan Negara maju yang pernah menjadi Negara kedua saya adalah Jepang. 3 Tahun tinggal di Jepang, adalah waktu yang cukup lama.
Mungkin banyak yang berfikir, wajar saja kalau punya banyak teman Orang Jepang, toh pernah tinggal lama di sana.



Tetapi ternyata, tidak semua orang bisa berteman dengan Orang Jepang. Kendala Bahasa mungkin menjadi salah satu faktor terbesar.
Tapi barangkali, Satu hal yang saya ingin sampaikan adalah, Pola Pikir dan budaya yang berbeda mungkin jadi Faktor utamanya.

Lingkaran Luar Orang Jepang itu sangat Keras, sehingga sulit untuk ditembus. Akan tetapi Lingkaran dalamnya mereka Lunak.
Dengan kata lain, Memang sangat sulit untuk berteman dengan Mereka, tetapi sekalina Menjadi teman, mungkin bisa selamanya jadi Teman.
Satu atau dua kali ketemu, mungkin bisa dikatakan kenalan, tapi belum tentu bisa dikatakan teman. Sekalipun ketemu dan ngorbrol di suatu tempat, entah di dalam kereta, di bus, ditaman dan lain-lain sampai kita tukaran Kontak HP atau account Facebook dan akun Sosial Media lain sekalipun, belum tentu kita bisa ketemu untuk kedua kalinya. Dan akhirnya hanya sekedar kenalan.
Misalkan, dalam suatu kesempatan, kita bertemu dengan Orang jepang, kemudian ngorbrol dari mulai nama, umur, hobby bahkan sampai tukar kontak (no HP) sekalipun, masih belum tentu dikatakan Teman.


Kalau kita bandingkan dengan Pola pikir dan budaya Orang kita (Indonesia) yang terkesan sangat Ramah dan bisa cepat akrab dengan orang yang baru ditemui sekalipun, mungkin berbanding terbalik. Bahkan kalau boleh dikatakan sebaliknya “Lingkaran Luarnya Orang kita itu sangat lunak, sehingga cepat sekali bisa akrab dengan siapapun. Sayangnya, Lingkaran Dalam kita terlalu keras, bahkan kadang terjadi, Orang yang terlihat sudah seperti sahabat tak terpisahkan sekalipun, bisa tiba-tiba tampak seperti bermusuhan. Seolah menemui titik yang bertentangan (lingkaran dalam yang keras) inipun menjadi pemecah hubungan.

Duduk bersebelahan selama berjam-jam dalam satu kereta atau bus sekalipun, Orang Jepang bahkan bisa untuk diam dan tidak bicara sedikitpun terhadap orang disebelahnya. Mereka biasanya diam sambil membaca buku, mendengarkan musik, atau fokus dengan mainan Game-nya. Mungkin karena individualitas mereka yang sangat tinggi, sehingga pola pikir mereka yang menganggap “Mereka tidak mau diganggu, maka saya pun tidak akan mengganggu Orang lain” dan lain sebagainya. Sehingga, kebanyakan orang yang tinggal di negara Maju terkesan lebih Individualis, tidak perduli dengan keadaan lingkungan
Berbeda sekali dengan karakter kita yang kadang suka ingin tahu Urusan orang lain. hehehe

Beberapa cara untuk menjalin Persahabatan dengan Orang Jepang neh,
Berteman dengan Orang yang sering kita temui. Bisa yang satu tempat kerja, satu tempat belajar, satu klub dalam sebuah komunitas dan lain-lain.
Ini adalah cara yang paling gampang. Sayangnya tidak semua Orang yang ditempat kerja kita itu bisa dijadikan Teman.
Jika bertemu diluar, dan sempat ngobrol kesana-kemari, kemudian ingin menjadikannya sebagai teman, Yang harus kita lakukan adalah, cari kesempatan kedua untuk bertemu lagi. Entah untuk makan bareng, Atau menghadiri event yang sama dan lain-lain.
Minta no HP, akun Facebook, Line id dan lain-lain bukanlah cara yang efektif. Sebab, sekalipun berhasil mendapatkan kontak mereka, kalau tidak bisa membuat chance untuk ketemu kedua kalinya, mungkin Status sebagai kenalan tidak akan berubah menjadi teman.

Yaaa, ini seh cuma cerita doank, tapi beberapa point mungkin bisa teman-teman buktikan sendiri.
Yang paling penting, mau berteman dengan siapapun, Jangan Pamrih, dan berhentilah berharap dan memposisikan diri kita sebagai penerima. Biar bagaimanapun, tangan diatas lebih baik dari pada tangan dibawah kan.


Ingin tahu hal lainnya, silahkan lihat artikel terdahulu ini ya. Ada Video ku pas Speech Kontes bhs Jepang, dibawahnya ada terjemahan bahasa Indonesia nya kok. Semoga Bermanfaat.


 http://edisjun.hamazo.tv/e6174203.html